RSS

My Story :)

27 Feb

Tanggal 20 February 2011 kami mendapatkan berita duka Oppung Firdaus Doli (Kakek). Alm kakek kami  meninggal jam 16.00 WIB di RSUD Dolok Sanggul. Dan berita duka itu langsung tersebar ke semua anak-anak dan cucu oppung. Aku pun mendapat informasi dari mamah sekitar jam 16.15 WIB saat mengetahui itu  tangis ku pun tak tertahankan.

Sehingga tanggal 21 February 2011 jam 14.15 WIB pesawat kami berangkat ke Jakarta menuju Medan dan menunju Dolok Sanggul menggunakan mobil ± 6 jam. Sesampai di Dolok Sanggul sungguh bagaikan mimpi melihat Oppung Doli yang sudah terbujur kaku tak bernafas waktu itu pertama kalinya aku melihat papah menangis. Berbagai sebab ayahku menangis karena kami lama tidak pulang kampong, papah dan mamah ku tidak mempunyai anak laki-laki dan itu merupakan suatu kekurangan dari keluarga kami. Karena anak laki-laki dalam suku batak lebih berharga karena ia yang nantinya meneruskan marga Munthe tersebut.

Tanggal 22 February 2011, Pada hari ini kami menerima ucapan berbelasungkawa dari sanak saudara dan para tetangga serta kerabat dekat (temsn-teman alm) serta berunding kapan dikuburkan alm Oppung Doli.

Tanggal 23 February 2011. Sebelum acara adat setiap anak dan cucu dari alm.Oppung Doli dipersilahkan mengucapkan kata-kata terakhir kepada alm.Oppung Doli. Acara puncak yaitu adat SAUR MATUA artinya acara adat khusus untuk orang tua (alm) yang sudah sukses atau berhasil menyekolahkan anak-anaknya semua dan menikahkan semua anaknya. Dalam acara tersebut dilakukan pemberian ULOS PASU-PASU yang artinya ulos berkat dari hula-hula (Raja/saudara laki-laki dari Nenek). Dan juga pemberian ulos dari setiap sanak keluarga. Saat pemberian ulos diiringi dengan alunan music khas batak yaitu GONDANG dengan  TARIAN TOR-TOR.

Symbol dari adat SAUR MATUA adalah adanya pemotongan kerbau, dan sebagian darah dari kerbau yang telah disembelih dibawah oleh anak pertama dari tempat pemotongan kerbau menuju rumah dengan cara darah tersebut dimasukkan dalam wadah juga harus dibawa dengan cara ember (wadah) tersebut diletakkan diatas kepala, dan di sambut dengan alunan music GONDANG dan  TARIAN TOR-TOR. Acara tersebut dengan maksud menghormati alm. Oppung Doli.

Setelah selesai acara adat tersebut barulah diadakan kebaktian singkat oleh Pendeta sebelum pemberangkatan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (penguburan). Dan setelah acara tersebut tepat pukul 15.00 WIB dilaksanakan acara penguburan. Selesai acara penguburan kembali kerumah dan makan bersama. Lalu masih berjalan acara Tari-tarian TOR-TOR dan diiringi alunan music GONDANG. Lalu malam harinya setelah para tamu pulang barulah kumpul para keluarga yaitu seluruh anak almarhum untuk mebicarakan seluruh pengeluaran acara tersebut.

Tanggal 24 February 2011. Ziarah pertama ke kuburan sekaligus membersihkan kuburan dari alm. Oppung Doli. Juga pada hari ini diadakan  kabaktian-kebaktian singkat yang diadiri oleh seluruh anak-anak dari alm. Oppung Doli. Serta adanya ramah-tamah juga ucapan bela-sungkawa dari rekan-rekan, teman-teman, sanak saudara yang datang dari perantauan pada acara ini para keluarga memberi makan untuk para tamu yang datang sebagai ucapan rasa terimakasih atas kedatangan para tamu.

Tanggal 25 February 2011. Pada hari ini kami bergotong-royong membersihkan rumah. Pada hari ini merupakan acara bebas bagi anak-anak alm. Oppung Doli yang ingin mengunjungi keluarga  masing-masing dari anak-anak menantunya. Dan sore harinya  jam 16.00 WIB aku, kak Ocha, Abang Daus, Namboru (F.A.Munthe), Bapa Uda Debora (L.Munthe), Bapa Uda adenan (A.R Siambaton) berzirah ke kuburan Oppung Doli karena keesokkan harinya kami pulang ke kota masing-masing.

Tanggal 26 February 2011. Aku duluan pulang ke Palangka Raya, mereka papah dan mamahku pulang ke Palangka Raya hari Minggu, 27 February 2011 karena hari sabtu mereka ada acara di Medan dengan ayah angkat dari mamah (Oppung Doli dan Oppung Boru). Perjalananku ke Palangka Raya dari Dolok Sanggul – Medan lalu Medan – Jakarta dan Jakarta – Palangka Raya. Aku sampai di Palangkaraya kira-kira sekitar jam 22.30 WIB.

Dan itulah cerita singkat perjalananku di DOLOK SANGGUL dan serangkaian prosesi acara meninggalnya Oppung Firdaus Doli. Dari acara tersebut banyak sekali perbedaan dari adat suku Dayak dan suku Batak. Dan dari acara tersebut aku mengetahui beberapa hal yaitu bahwa dalam Suku Batak, orang tua adalah bagai raja yang sangat dihormati serta dihargai karena mereka yang telah membesarkan dan merawat kita hingga kita dewasa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2011 in Pengalaman

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: