RSS

Arsip Harian: 1 Maret 2011

Balon Udara

Udara (gas) termasuk fluida, sehingga dapat melakukan gaya ke atas terhadap benda. Gaya ke atas yang dilakukan benda sama dengan berat udara yang dipindahkan oleh benda. Agar balon dapat bergerak naik, maka balon diisi gas yang massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis udara. Ketika balon udara diisi gas yang massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis udara, berat udara yang dipindahkan sama dengan gaya ke atas pada balon (Hukum Archimedes). Oleh karena itu maka balon terangkat ke atas.


Balon udara memiliki ketinggian yang tak berawak, biasanya bila diisi dengan helium atau hidrogen yang  dilepaskan, umumnya mencapai antara 60.000 sampai 120.000 kaki (18-37 km). Ketinggian balon tak berawak, biasanya diisi helium atau hidrogen yang dilepaskan ke stratosfer, umumnya mencapai 60.000  Sampai 120.000 ANTARA kesemek (18-37 km. Tujuan lain digunakan sebagai platform percobaan di bagian atas atmosfer.

Balon modern umumnya berisi peralatan elektronik seperti pemancar radio, kamera, atau sistem satelit navigasi, seperti penerima GPS. Balon modern umumnya berisi Pembongkaran PEMANCAR Peralatan elektronik radio, kamera, atau sistem satelit navigasi, Pembongkaran penerima GPS.  Balon yang diluncurkan ke dalam apa yang disebut ” near space” wilayah atmosfer bumi di mana ada udara sangat sedikit, tetapi tidak cukup tinggi berada di dunia satelit. Penggerak penggunaan laser  juga dapat digunakan untuk meningkatkan ketinggian maksimal.

Di Perancis selama 1783, percobaan publik pertama dengan balon berisi hidrogen yang terlibat Jacques Charles, seorang profesor Perancis Fisika dan Robert, konstruktor terkenal instrumen fisika.

Nah itu tadi penjelasan tentang balon udara yang merupakan salah satu aplikasih dari Hukum Archimedes.

Sumber : wikipedia dan BSE

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Maret 2011 in Fisika

 

Mengapa Kapal perang tidak mudah TENGGELAM?

Mengapa Kapal perang tidak mudah TENGGELAM?

Kenapa yaaa? :3

Kapal yang berlayar di lautan luas ngga mudah tenggelam kebayang ngga sih oleh apa bisa ada fenomena atau kejadian seperti itu? Kejadian itu bisa terjadi karena adanya aplikasi dari HUKUM ARCHIMEDES. Aplikasi hukum ini bisa kita jumpai pada kapal perang Kapal perang, kapal laut, kapal selam, galangan kapal, balon udara, hydrometer, dan jembatan poton. Nah sekarang aku jelaskan kenapa sih kapal itu tidak mudah tenggelam saat berlayar di lautan luas padahal kan kapal itu terbuat dari besi baja dan sebagainya bahan-bahan yang pasti lebih berat dari jarum 😀

Kapal perang itu tidak mudah tenggelam karena badan kapalnya telah dibuat berongga yang penyebabnya adalah kapal laut memiliki ”ruangan” yang demikian luas beserta rongga berisi udara, yang menjadikan ”volume” kapal laut menjadi sedemikian besar dan mengakibatkan massa jenisnya jadi lebih kecil hal ini bertujuan agar volume air laut yang dipindahkan oleh badan kapal menjadi lebih besar. Besarnya gaya apung sebanding dengan volume zat cair yang dipindahkan, sehingga gaya apungnya menjadi sangat besar. Gaya apung inilah yang mampu melawan berat kapal, sehingga kapal tetap dapat mengapung di permukaan laut dan menjadi tidak mudah tenggelam.

Terapung merupakan keadaan seluruh benda tepat berada di atas permukaan zat cair atau hanya sebagian benda yang berada di bawah permukaan zat cair. Benda dapat terapung dikarenakan massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis zat, sehingga berat benda juga lebih kecil dari pada gaya Archimedes. Gaya ke atas dalam zat cair disebut dengan gaya Archimedes. Jadi, Kapal perang yang tidak mudah tenggelam ini merupakan salah satu aplikasi dari hukum Archimedes. Yang secara umum hukum Archimedes dapat dinyatakan sebagai berikut: sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya kedalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan.

Nah jadi sudah tau kan mengapa kapal perang itu tidak mudah tenggelam yahh oleh ‘itu’ (penjelasan diatas). Jadi semoga bermanfaat.

Sumber : Supiyanto. 2006. FISIKA untuk SMA kelas XI. Ciracas, Jakarta: PhiBeta dan BSE

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Maret 2011 in Fisika